Kamis, Februari 26, 2009

Meningkatkan Hasil Belajar Pengetahuan Dasar Teknologi melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan STAD di SMK

Jonni Syam

Abstract: This classroom action research was aimed at improving the students’ activeness in the learning process in the class by using Student Team Achievement Division (STAD) approach and improving the students’ learning result of Technology Basic Knowledge subject. The subjects were the grade one students of SMK Negeri 2 Somba Opu Gowa. The analysis indicated that the students’ learning result of Technology Basic Knowledge improved by using cooperative learning based on STAD approach. The analysis also showed that there was a frequency improving of students’ presence, attention and activeness in learning-teaching process.

Kata kunci: Teknologi, pembelajaran kooperatif, pendekatan Student Team Achievement Division (STAD).

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang dapat mempercepat terjadinya perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan yang lain. Penguasaan Pengetahuan Dasar Teknologi adalah sangat penting karena penguasaan-penguasaan tersebut akan menjadi sasaran yang ampuh untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi demikian pula untuk memperoleh lapangan kerja. Mengingat pentingnya peranan Pengetahuan Dasar Teknologi tersebut, maka hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi di sekolah perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait.

Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru sebagai pendidik memegang peranan penting dalam menentukan hasil belajar yang akan dicapai siswanya.

fSalah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik khususnya di bidang Pengetahuan Dasar Teknologi adalah bagaimana mengajarkan Pengetahuan Dasar Teknologi dengan baik agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan materi dan cara pemilihan metode atau strategi belajar yang sesuai sangat menentukan tercapainya tujuan pengajaran.

Pemilihan dan penguasaan strategi mengajar yang tepat serta penguasaan keterampilan dasar mengajar merupakan suatu alternatif dalam usaha meningkatkan mutu pengajaran. Terdapat beberapa macam keterampilan dasar mengajar yang telah dikenal, diantaranya yang menjadi perhatian penulis untuk menerapkan penelitian ini adalah keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan yang merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD.

Banyak model yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas, namun pemakaian metode yang hanya berfokus pada satu metode saja dapat membawa siswa pada kejenuhan belajar dan kebosanan. Dalam hal ini dapat mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Olehnya itu hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan.

Disadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Untuk meminimalkan perbedaaan tersebut, maka dibentuk secara berkelompok agar siswa dapat saling mengisi, saling melengkapi, serta bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal atau tugas yang diberikan oleh guru. Dengan demikian tujuan pengajaran dapat tercapai dan hasil belajar siswapun dapat ditingkatkan.

Pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD memungkinkan guru dapat memberikan perhatian terhadap siswa. Hubungan yang lebih akrab akan terjadi antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Ada kalanya siswa lebih mudah belajar dari temannya sendiri, adapula siswa yang lebih mudah belajar karena harus mengajari atau melatih temannya sendiri. Dalam hal ini pengajaran kooperatif dengan pendekatan STAD dalam pelaksanaannya mengacu kepada belajar kelompok siswa. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan memungkinkan siswa belajar lebih aktif, mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, berkembangnya daya kreatif, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa secara optimal.

Berdasarkan judul penelitian di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: (1) Hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa masih tergolong sedang. (2) Adanya perbedaan daya tangkap masing-masing siswa terhadap pelajaran yang diterangkan guru. (3) Siswa cenderung menginginkan kerja sama dalam suatu kelompok kecil untuk menyelesaikan soal-soal Pengetahuan Dasar Teknologi tanpa banyak bantuan dari guru.

Untuk memecahkan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka model pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD. Selama kegiatan penelitian ini berlangsung siswa dikelompokan pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah (1) untuk memacu keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas dengan belajar secara kooperatif dengan pendekatan STAD dan (2) untuk meningkatkan hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif

Manfaat hasil penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah (1) siswa terampil menyelesaikan soal, lebih memahami dan mendalami materi pelajaran yang diberikan di sekolah dan (2) siswa lebih aktif belajar, bersikap positif dan bertanggung jawab serta senang belajar Pengetahuan Dasar Teknologi.

Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang yang dilandasi dengan adanya perubahan tingkah laku yang lebih baik. Menurut Oemar Hamalik (1983:21) mengemukakan bahwa: “Belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”.

Tingkah laku yang baru yang dimaksud ialah dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan dan sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani dan lain sebagainya.

Menurut Nana Sudjana (1989:28) mengemukakan bahwa: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang melalui proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu”.

Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dengan berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain yang merupakan aspek yang ada pada individu. Jadi belajar pada dasarnya adalah perubahan yang diperlihatkan oleh individu dalam bentuk tindakan sebagai adanya interaksi dengan lingkungannya. Seorang tidak dapat dikatakan belajar tanpa adanya tindakan.

Belajar Pengetahuan Dasar Teknologi merupakan proses yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan hasil baru dengan menggunakan simbol-simbol dalam struktur Pengetahuan Dasar Teknologi sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Namun belajar Pengetahuan Dasar Teknologi tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai, tetapi juga dilihat dan diukur dari segi proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Dengan demikian siswa mempunyai kemampuan berpikir secara logika, kritis, cermat, dan objektif dalam proses belajar.

Kemampuan berpikir logis, minat terhadap Pengetahuan Dasar Teknologi dan sikap terhadap Pengetahuan Dasar Teknologi berkorelasi secara signifikan dengan hasil belajarnya.

Menurut Howard Kingsly (dalam Nana Sudjana 1989:45) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Pendapat lain dikemukakan oleh H. Sahabuddin (1994:13) yang mengatakan bahawa:

“Keberhasilan belajar seseorang, selain dipengaruhi oleh kemampuan intelektual dan lingkungan belajarnya, juga dipengaruhi oleh cita-cita yang ingin dicapai yang berlaku sebagai sumber dorongan atau motivasi belajar. Makna kuat seseorang berpegang pada cita-citanya, makin gigih ia berusaha melalui belajar untuk mencapai cita-citanya”

Sedangkan Herman Hudoyo (1990:39) mengemukakan pendapatnya tentang hasil belajar sebagai berikut:

“Hasil belajar dan proses belajar kedua-duanya penting, di dalam belajar ini, terjadi proses berpikir. Seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental, bukan kegiatan motorik walaupun kegiatan motorik ini dapat pula bersama-sama dengan kegiatan mental tersebut, dalam mental itu orang menyusun hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian. Karena itu menjadi memahami dan menguasai hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari, inilah merupakan hasil belajar”.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, berarti bahwa hasil belajar Pengetahun Dasar Teknologi dicapai setelah hasil belajar sebagai akibat dari perlakuan dalam kegiatan belajar. Pengusaan materi yang akan diajarkan bagi seorang pengajar belumlah cukup untuk menentukan hasil belajar bagi siswa, tapi juga harus didukung dengan adanya interaksi multi arah antara pengajar dengan siswa yang diajar, dan antara siswa dengan siswa, sehingga terjadi dua kegiatan yang saling mempengaruhi yang menentukan hasil belajar siswa.

Jadi hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi adalah taraf kemampuan aktual yang bersifat terukur, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, interpretasi yang dicapai oleh siswa dan apa yang dihadapi oleh siswa di sekolah.

Guru dapat memperbaiki/meningkatkan proses belajar mengajar berikutnya dengan adanya umpan balik yang diperoleh melalui evaluasi hasil belajar. Dengan adanya umpan balik yang diperoleh melalui evaluasi hasil belajar, guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi yang tepat bagi siswa. Sehubungan dengan itu, guru dapat membuat catatan-catatan atau dokumentasi yang memuat kemajuan/kemunduran siswa, perilaku sehari-hari siswa, problem yang dihadapi siswa dan cara pemecahannya dan sebagainya yang dianggap perlu. Dengan demikian setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, disamping itu juga diukur segi prosesnya.

Pembelajaran Kooperatif, salah satu model pembelajaran yang saat ini mendapatkan perhatian karena mengingat jangkauannya bukan hanya membantu siswa untuk belajar dari segi akademik namun juga belajar dari segi keterampilan dan juga melatih siswa untuk tujuan-tujuan hubungan sosial dimana model pebelajaran ini memfokuskan pada pengaruh-pengaruh pengajaran seperti pembelajaran akademik khususnya menumbuhkan penerimaan antar kelompok serta keterampilan sosial antar kelompok.

Seperti yang dikemukakan oleh Muslimin Ibrahim (2000:2) bahwa:

“Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang memfokuskan pada pengaruh-pengaruh pengajaran seperti pembelajaran akademik, khususnya menumbuhkan penerimaan antar kelompok serta keterampilan sosial antar kelompok”

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran ini, seperti yang dikemukakan oleh Muslimin Ibrahim (2000:6) bahwa ada 7 unsur-unsur yang harus diperhatikan, yaitu:

(1) Siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”

(2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.

(3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.

(4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.

(5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.

(6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

(7) Siswa akan diminta untuk mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif”

Dari uraian tersebut di atas, maka hal lain yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran ini adalah bahwa pada pembelajaran kooperatif terdapat empat pendekatan yang dapat digunakan yaitu: pendekatan STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok dan pendekatan Struktural. Namun dalam penelitian ini penulis mencoba menerapkan pendekatan STAD (Student Team Achievement Division), dimana dalam pendekatan ini, guru senantiasa membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4–5 orang dalam satu kelompok untuk saling berinteraksi satu sama lain.

Meskipun pendekatan ini amat sederhana, namun sangat memacu siswa untuk menuntaskan materi pelajarannya. Hal ini disebabkan mereka akan saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran, baik itu melalui tutorial, kuis, atau melakukan diskusi. Dan yang amat penting memacu motivasi siswa untuk senantiasa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan serius karena secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis.

Dari kuis tersebut, siswa diberi skor dan diumumkan di depan siswa untuk mengkriteriakan tim-tim yang memperoleh skor tertinggi atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu.

Tugas perencanaan penting lainnya untuk model pembelajaran kooperatif ini adalah pembentukan kelompok siswa. Untuk lebih mengaktifkan kegiatan pembelajaran kooperatif ini, hal yang harus diperhatikan adalah dasar keanggotaan kelompok tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Muslimin Ibrahim (2000:31) bahwa:

“Bila memungkinkan anggota kelompok bersal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda. Selain itu kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah”.

Dari pendapat yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teknik yang digunakan dalam pembagian anggota kelompok dalam penelitian ini, siswa dikelompokkan dilihat dari segi kemampuan siswa dalam prestasi belajarnya apakah itu tinggi, sedang, dan rendah, juga diperhatikan ras, budaya, suku, dan jenis kelamin

Berdasarkan kerangka teoretis diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah melalui metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD maka hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa dapat ditingkatkan.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dan cara pelaksanaannya meliputi 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa pada cawu II tahun Pelajaran 2000/2001 dengan jumlah siswa 31 orang. Rancangan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus: (1) Siklus pertama berlangsung selama 7 kali tatap muka dan (2) Siklus kedua berlangsung selama 9 kali tatap muka

Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas, siklus kedua merupakan perbaikan siklus pertama. Selanjutnya secara terperinci penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Siklus I

Siklus pertama berlangsung selama 7 kali tatap muka dan dalam 4 tahap sesuai dengan kriteria Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

1. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan yang akan dilaksanakan adalah:

a.Telaah Kurikulum (GBPP Pengetahuan Dasar Teknologi Tahun 1998) SMK kelas 1 dan membuat Skenario Pembelajaran dengan materi:

- Resistor

- Kapasitor dan

- Radio

b.Membuat skenario pengajaran untuk setiap pertemuan.

a) Membuat lembar observasi untuk mengamati dan mengidentifikasi segala yang terjadi selama proses belajar mengajar di kelas, antara lain: Daftar absensi dan keaktifan/ kesungguhan siswa di dalam proses belajar mengajar.

b) Membuat alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diberikan.

2. Tahap Tindakan

Tahap tindakan ini adalah tindakan yang akan dilaksanakan setiap tatap muka. Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:

a. Pada awal tatap muka, guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pengajaran pada pertemuan yang bersangkutan secara klasikal ± 15 menit beserta contoh-contoh soal dan melibatkan siswa untuk menyelesaikan di papan tulis.

b. Siswa diarahkan untuk membentuk kelompok kecil yang pembagiannya telah disepakati bersama. Dengan kelompok yang dibentuk tersebut anggotanya heterogen (ada yang pintar, sedang, dan kurang) yang jumlahnya 4 orang tiap kelompok.

c. Siswa diberi tugas atau soal latihan yang sama dan diselesaikan secara berkelompok oleh masing-masing kelompok. Setelah itu siswa diberi soal yang identik untuk diselesaikan secara perorangan atau individual.

d. Selama proses belajar berlangsung, setiap kelompok tetap diawasi, dikontrol, dan diarahkan, serta diberi bimbingan secara langsung pada kelompok yang mengalami kesulitan, ataupun yang bertanya mengerjakan soal yang diberikan.

e. Lembar jawaban dari tiap kelompok dan lembar jawaban individu diperiksa kemudian dikembalikan untuk selanjutnya menjadi bahan diskusi untuk masing-masing kelompok dan hasil ini merupakan pedoman bagi guru dalam menyusun rencana tindakan pada siklus berikutnya.

3. Tahap Observasi

Observasi ini dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Mencatat setiap hal yang dialami oleh siswa, situasi dan kondisi belajar siswa berdasarkan lembar observasi yang sudah dibuat dalam hal ini mengenai kehadiran siswa, perhatian, dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.

4. Tahap Refleksi

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap refleksi ini adalah:

a. Merefleksi setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, yakni keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas secara kelompok, dan tugas individu.

b. Menilai dan mempelajari perkembangan hasil pekerjaan siswa dalam bentuk kelompok dan individu yang diberikan selama siklus I serta nilai terakhir siklus I.

c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat refleksi atau tanggapan tertulis ataupun saran-saran perbaikan atas:

- metode pembelajaran yang diberikan

- kegiatan belajar mengajar yang mereka alami

Untuk selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan siklus I pada siklus berikutnya.

Siklus II

Pada dasarnya hal-hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulang tahap-tahap yang dilakukan pada siklus sebelumnya. Dilakukan sejumlah rencana baru untuk memperbaiki atau merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I. Siklus II ini dilakukan selama 9 kali tatap muka yang pelaksanaannya meliputi:

1. Tahap Perencanaan

a. Merancang siklus II ini sama dengan siklus I dengan materi yang sama untuk memecahkan masalah siklus I

b. Dari hasil refleksi serta tanggapan yang diberikan siswa pada siklus I guru menyusun rencana baru untuk dibuat tindakannya antara lain: mengawasi siswa lebih tegas dan memberikan teguran bagi siswa yang kurang disiplin.

c. Memberikan motivasi agar siswa dapat lebih bergairah dan senang belajar Pengetahuan Dasar Teknologi baik secara kelompok maupun secara individual.

2.Tahap Tindakan

Tindakan siklus II ini adalah melanjutkan langkah-langkah yang telah dilakukan pada siklus I dan beberapa perbaikan yang dianggap perlu dan dapat memecahkan masalah yang ditemukan pada siklus sebelumnya.

Adapun tindakan yang dimaksud yaitu:

a. Melanjutkan tindakan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD dalam bentuk kelompok.

b. Kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas atau soal, diberikan bimbingan secara langsung dan sesekali diarahkan secara klasikal. Demikian pula halnya dengan tugas yang dikerjakan secara perorangan.

c. Lembar jawaban dari masing-masing kelompok dan individu diperiksa dan dikembalikan untuk menjadi bahan diskusi. Jawaban yang kurang tepat dibetulkan oleh guru, dan jika ada soal yang dianggap penjelasan lebih lanjut, maka pada awal pertemuan berikutnya secara klasikal dibahas penyelesaian soal tersebut.

3. Tahap Observasi

Secara umum tahap observasi siklus II ini adalah melanjutkan kegiatan pada siklus I yang dilaksanakan pada saat proses belajar mengajar. Observasi yang dilakukan lebih ditingkatkan kecermatannya dan diupayakan secara maksimal agar siswa lebih berpartisipasi secara aktif dalam mengikuti pelajaran serta termotivasi untuk menyelesaikan soal secara kelompok.

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: data mengenai perubahan sikap, kehadiran, dan keaktifan siswa di dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar diambil dengan cara pengamatan atau observasi dan data tentang hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa diambil dari hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa setelah belajar kelompok serta hasil tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II.

Data yang terkumpul, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan Statistik deskriptif, untuk mendeskripsikan karakteristik dari subjek penelitian sedangkan untuk analisis data secara kualitatif digunakan dengan cara pengelompokan berdasarkan data kualitatif.

Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa adalah skala sebagaimana yang dikemukakan oleh Nurkancara (1986:80) yaitu sebagai berikut: 0% - 34% dikategorikan sedang, 65% - 84% dikategorikan tinggi, 85% - 100% dikategorikan sangat tinggi.

HASIL

Refleksi Terhadap Pelaksanaan Tindakan dalam Proses Belajar Mengajar Pengetahuan dasar Teknologi

1. Refleksi Siklus I

Pada saat pembagian anggota kelompok, pada umumnya siswa cenderung memilih teman akrabnya atau temannya yang dianggap lebih pintar. Namun untuk menghindari pendiskriminasian terhadap siswa yang lebih pintar, serta melihat kondisi tempat duduk yang agak padat dengan ruangan yang tidak luas, maka guru bertindak mengelompokkan siswa berdasarkan pedoman pengelompokan dalam pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD, yakni pengelompok didasarkan atas perbedaan jenis kelamin, agama dan tingkat prestasi belajar siswa, serta kalau memungkinkan terdiri dari beberapa suku. Hal ini dilihat dari biodata yang dikumpulkan dari tiap siswa. Dengan ketentuan jumlah siswa tiap kelompok terdiri dari 4 orang atau 5 orang sehingga terbentuk 7 kelompok dari 31 orang siswa.

Pada awalnya ada siswa yang menolak tetapi ada juga yang menerima ketentuan tersebut. Umumnya siswa yang menolak bersikap acuh tak acuh dan saling berharap di antara rekan kelompoknya dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Bahkan ada siswa yang kelihatan hanya bermain-main atau bercerita dengan rekan sebangkunya tanpa mempedulikan temannya yang lain yang berusaha menyelesaikan tugas kelompoknya sehingga soal yang diberikan terkadang tidak terselesaikan secara keseluruhan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD ini, umumnya siswa masih ragu-ragu untuk menanyakan soal-soal yang tidak dimengerti sehingga hasil pekerjaan tiap kelompok tidak terselesaikan dengan baik. Bahkan ada kelompok yang menyelesaikan soal yang tidak sesuai dengan maksud pertanyaan dari soal yang diberikan.

Ketika guru melontarkan pertanyaan sehubungan dengan tugas atau soal yang diberikan pun, umumnya siswa hanya berani menjawab secara serempak. Namun bila pertanyaan itu diulang dan guru minta satu orang siswa untuk menjawab hanya siswa tertentu saja yang mengacungkan tangan, yakni siswa yang kategori pintar. Mereka hanya saling berharap antara satu dengan yang lainya. Siswa baru mau menjawab apabila ditunjuk langsung oleh guru yang disertai dengan desakan dari teman-temannya. Ini berarti bahwa umumnya siswa masih memiliki sifat keraguan untuk menjawab pertanyaan apalagi untuk menyelesaikan soal di papan tulis.

Menjelang akhir pertemuan pelaksanaan siklus I, sudah menampakkan adanya kemajuan. Hal ini dapat dilihat dengan semakin bertambahnya jumlah siswa yang aktif untuk bertanya pada saat menyelesaikan soal secara berkelompok dan juga menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Pada umumnya siswa-siswa yang aktif tersebut hanya siswa yang sudah akrab dengan guru, siswa yang memang aktif dalam kelompoknya.

2. Refleksi Siklus II

Memasuki siklus II, perhatian, motivasi, serta keaktifan siswa semakin memperlihatkan kemajuan. Hal ini karena guru bertindak tegas dalam menegur/mengingatkan bagi siswa yang bermain-main. Selain itu guru terus memberikan dorongan serta motivasi untuk bekerja bersama dalam kelompoknya. Saling membagi tugas kelompok untuk mencapai solusi atau menyelesaikan soal di kelompoknya. Bila terdapat siswa yang tidak aktif, maka temannya tidak segan melaporkannya ke guru. Bahkan rasa percaya diri siswa pun semakin meningkat, terbukti dengan semakin antusiasnya siswa untuk bertanya ketika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan. Dalam hal ini, bukan saja dilakukan oleh siswa yang kategori pintar, namun siswa yang semula hanya diam-diam saja sudah mulai aktif bertanya tidak segan-segan untuk memanggil guru meminta penjelasan bila mereka belum mengerti.

Selain itu, mereka juga sudah dapat menunjukkan keberanian mereka untuk tampil di depan kelas untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Hal ini dapat terjadi karena dorongan serta dukungan dari teman-teman kelompoknya. Di samping itu mereka akan merasa dihargai dengan memberikan pujian atas hasil kerja mereka. Namun bila ada yang salah, guru memberikan komentar yang tidak menjatuhkan semangat siswa dari satu kelompok tertentu ketika meluruskan atau memperbaiki jawabannya.

Dalam siklus II ini, tugas yang diselesaikan secara individu diperiksa oleh guru dan lembaran tugas dikembalikan pada siswa, maka mereka cenderung saling membandingkan antara hasil yang mereka peroleh bahkan ada siswa yang meminta penjelasan guru bila mereka merasa kebingungan mengenai siapa di antara mereka yang pekerjaannya benar. Demikian juga dengan hasil pekerjaan kelompoknya, setelah diperiksa dan dikembalikan mereka cenderung saling membandingkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hal ini menimbulkan persaingan positif antar kelompok dan memacu semangat setiap kelompok untuk dapat menyaingi kelompok yang lain sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara perorangan.

Secara umum, hasil yang telah dicapai siswa setelah pelaksanaan tindakan dengan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD ini mengalami peningkatan baik dari segi perubahan sikap siswa, keaktifan, perhatian serta motivasi maupun dari segi kemampuan siswa menyelesaikan soal Pengetahuan Dasar Teknologi secara individu sebagai dampak dari hasil kerja kelompok, dengan demikian metode ini telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa secara klasikal.

PEMBAHASAN

Hasil-hasil penelitian memperlihatkan perubahan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD. Adapun yang dianalisis adalah tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II serta perubahan sikap, kehadiran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Penelitian ini menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 7,500 dan skor terendah 4,700 dengan median 6,150 serta standar deviasinya adalah 0,737 sedangkan skor rata-ratanya adalah 6,103 dan rentang skor 2,800 dengan jumlah siswa 31 orang. Bahwa tak seorang pun siswa yang berada pada kategori rendah sekali, untuk kategori rendah 22,58% dan untuk siswa yang berada pada kategori sedang 45,16% dan siswa yang berada pada kategori tinggi adalah 32,26%. Jika skor rata-rata perolehan siswa pada siklus I ini yaitu 6,103 dikonversikan dalam kategori lima, maka hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa pada siklus I ini berada pada kategori sedang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai dari 31 siswa adalah 8,700, skor terendah 5,000, dengan median 6,600 sedangkan standar deviasinya 0,997 dan skor rata-rata 6,623.

Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa tidak terlepas dari faktor perhatian dan motivasi siswa. Namun yang menjadi masalah adalah apakah melalui metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD pun dapat menarik perhatian, serta motivasi dan kesungguhan siswa untuk lebih berusaha dalam meningkatkan hasil belajarnya. Dalam membahas perubahan sikap siswa dalam mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD tidak terlepas dari perhatian serta motivasi dan kesungguhan siswa.

Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat oleh guru pada setiap siklus. Perubahan-perubahan ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Berdasarkan nilai hasil pemberian tes setelah pelaksanaan tindakan siklus I terlibat secara umum hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa di kategorikan sedang dengan nilai rata-rata 6,103. Selanjutnya berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa masih rendah rata-rata perilaku siswa yang menunjukkan aktivitas mereka dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Hasil refleksi di atas menjadi acuan dilanjutkannya pelaksanaan tindakan kesiklus II dengan mengupayakan perbaikan dan pengembangan tindakan yang diberikan.

Berdasarkan nilai hasil pemberian tes setelah pelaksanaan tindakan siklus II terlihat bahwa secara umum hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas I.B SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa dikategorikan tinggi dengan nilai rata-rata 6,623. Selanjutnya berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa ada peningkatan rata-rata perilaku siswa yang menunjukkan aktivitas mereka dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Berdasarkan presentasi keaktifan dan kehadiran siswa, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Meningkatnya presentase kehadiran siswa, dari siklus I sebanyak 88,71 % selama 7 kali pertemuan menjadi 91,61 % dengan 9 kali pertemuan pada siklus II, dengan jumlah siswa 31 orang. Hal ini berarti bahwa semakin meningkatnya motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran yang dilaksanakan dengan cara berkelompok.

2. Perhatian siswa pada proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD juga mengalami peningkatan, dari siklus I ke siklus II. Ini menunjukkan semakin bertambahnya siswa yang mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran atau soal-soal yang tidak dapat diselesaikan. Dari siklus I sebanyak 16,77 % menjadi 21,93 % siswa pada siklus II. Ini berarti bahwa siswa menyadari pentingnya mengikuti pelajaran dalam hal ini belajar bersama dalam kelompok agar dapat lebih mengerti pelajaran dan tidak ketinggalan dari teman-teman yang lain, serta tidak lagi hanya bergantung pada teman kelompoknya yang lebih pandai.

3. Keberanian dan semangat siswa menjawab pertanyaan atau masalah yang diajukan oleh guru juga mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari sejumlah siswa yang turut terlibat dalam menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah selama proses pembelajaran di kelas. Terlihat dari siklus I sebanyak 10,64 % meningkat menjadi 14,51 pada siklus II.

4. Rasa percaya diri siswa juga mengalami peningkatan dengan semakin bertambahnya jumlah siswa yang berani tampil untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Meskipun terkadang ada siswa yang masih ragu-ragu untuk menyelesaikan soal di papan tulis, namun karena dorongan serta dukungan teman-teman kelompoknya sehingga memacu keberanian untuk tampil dengan penuh percaya diri terbukti pada siklus I sebanyak 9,03 % menjadi 11,61 % siswa pada siklus II.

5. Disamping itu peningkatan perhatian siswa juga dapat dilihat dari kedisiplinan siswa dalam mengikuti proses belajar secara kelompok di kelas, dengan berkurangnya siswa yang keluar masuk ruangan pada saat pelaksanaan metode pembelajaran kelompok.

Dari hasil analisis terhadap refleksi atau tanggapan siswa, dapat disimpulkan kedalam kategori sebagai berikut:

1. Pendapat siswa terhadap pelajaran Pengetahuan Dasar Teknologi

Sebagian besar siswa merasa senang dengan pelajaran Pengetahuan Dasar Teknologi dengan alasan bahwa Pengetahuan Dasar Teknologi merupakan dasar untuk mempelajari pelajaran lainnya, lagi pula menantang siswa untuk berpikir melalui penghitungan-penghitungannya. Di samping itu alasan lain yang muncul ialah bahwa siswa merasa senang dengan cara mengajar gurunya sehingga mereka dapat lebih mudah dan termotivasi untuk mempelajarinya, kendatipun demikian masih ada juga siswa kadang senang, kadang tidak senang. Dengan alasan apabila mereka tahu cara mengerjakannya, maka timbul rasa senang dan rasa tidak senangnya apabila mereka tidak dapat atau sulit dalam menyelesaikannya, maka Pengetahuan dasar Teknologi dirasa sangat membosankan apalagi siswa yang memang daya tangkap dan nalarnya agak rendah.

2. Tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD.

Secara umum tanggapan yang diberikan siswa dengan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD sangat bagus dengan alasan mereka dapat bekerja sama dan bertukar pendapat dengan teman kelompoknya sehingga apabila soal yang sulit diselesaikan atau kurang dimengerti oleh siswa yang satu, maka siswa yang lain dapat memberitahu atau menjelaskan. Bahkan siswa menginginkan agar metode pembelajaran ini dapat terus dilanjutkan.

3. Cara-cara Perbaikan Proses Belajar Mengajar dengan Metode Pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan STAD

Saran-saran yang diajukan oleh siswa terhadap proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD ini adalah sebagai berikut:

a. Pada umumnya siswa menyarankan agar guru lebih tegas dalam mengawasi setiap kelompok, agar tidak ada siswa yang merasa terganggu atau kelompok yang terganggu dalam bekerja kelompok pada saat mengerjakan tugas.

b. Agar dalam metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD ini, anggota kelompok harus bersifat heterogen, dalam arti bahwa siswa yang lebih pandai digabung dengan siswa yang kurang pandai dalam satu kelompok sehingga mereka dapat saling memberi informasi atau saling memberitahukan mengenai materi yang kurang dipahami kepada teman sekelompoknya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa kelas Ib SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa dapat mengalami peningkatan melalui pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD.

Hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa mengalami peningkatan melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siklus I yang berada pada kategori sedang, mengalami peningkatan pada siklus II yang berada pada kategori tinggi.

Hasil belajar Pengetahuan Dasar Teknologi siswa per individu sebagai dampak dari pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD selama siklus I dengan skor rata-rata 6,103 dan pada siklus II meningkat skor rata-rata 6,623.

Terjadi peningkatan frekuensi kehadiran siswa, perhatian dan keaktifan siwa dalam proses belajar mengajar sesuai dengan hasil observasi selama tindakan dilaksanakan maupun dari hasil refleksi siswa.

Pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD, diawali dengan guru menjelaskan materi pengajaran secara klasikal selama kurang lebih 15 menit, kemudian siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat orang setiap kelompok. Guru memberikan soal yang sama dan diselesaikan secara kelompok, yang dilanjutkan dengan menyelesaikan soal yang identik secara perorangan sebagai dampak dari belajar bersama dalam kelompok. Sementara itu, guru dapat mengawasi dan mengontrol pelaksanaan tindakan tersebut.

Saran

Dalam mengajarkan materi pelajaran, sebaiknya guru tidak hanya terfokus pada satu metode saja, melainkan menggunakan beberapa metode.

Melihat hasil penelitian yang diperoleh melalui pelaksanaan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD sangat bagus, maka diharapkan kepada guru-guru khususnya guru Pengetahuan Dasar Teknologi agar dapat menerapkan metode ini dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Setiap tugas yang diberikan diharapkan agar guru memberikan umpan balik supaya siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuannya. Dengan demikian, siswa dapat termotivasi untuk mengerjakan tugas-tugas berikutnya.

DAFTAR RUJUKAN

Herman Hudoyo. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

Muslimin Ibrahim, Fida Rachmadiarti, Muhammad Nur, Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Suarabaya:UNESA.

Nana Sudjana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Nurkancara, Wayang. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Oemar Hamalik. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

Sahabuddin. 1994. Kemampuan Mengajar Tamatan IKIP UP pada Berbagai Jenis dan Jenjang Pendidikan dan Keguruan. IKIP Ujung Pandang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar